Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa etos kerja Bushido merupakan pilar sukses ekonomi Jepang di kancah dunia. Etos kerja ini mengajarkan tujuh prinsip, yakni: Gi - keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran; jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, sebab kematian yang demikian adalah kematian yang terhormat: Yu - berani dan bersikap kesatria: Jin - murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama: Re - bersikap santun, bertindak benar: Makoto - bersikap tulus yang setulus-tulusnya, bersikap sungguh dengan sesungguh-sungguhnya dan tanpa pamrih: Melyo - menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan, serta Chugo - mengabdi dan loyal.
Begitu pula keunggulan bangsa Jerman, menurut Max Weber, rahasianya terletak pada etos kerja Protestan yang terdiri dari enam prinsip, yakni: bertindak rasional, berdisiplin tinggi, bekerja keras, berorientasi pada kekayaan material, menabung dan berinvestasi, serta hemat, bersahaja dan tidak mengumbar kesenangan. Memang, kita banyak melihat produk-produk kedua negara itu membanjiri dunia dengan mutu kelas satu. Mulai dari otomotif, farmasi, elektronika, telekomunikasi, permesinan, kosmetika hingga fashion.
Pertanyaan yang menggoda adalah sejauh mana kelemahan etos kerja bangsa Indonesia menjadi sebab dari dari runtuhnya sistem ekonomi dan politik republik tercinta? Saya sendiri berpendapat, di sinilah letak kelemahan utama bangsa kita. Artinya, selama ini kita membangun di atas pondasi yang rapuh. Namun, kita sangat ambisius membangun gedung tinggi. Pada ketinggian tertentu ia akan rubuh sendiri, ditambah lagi terpaan gelombang globalisasi yang datang menerjang, maka habislah bangunan kita luluh lantak.
Tanpa penelitian ilmiah ala Weber sekalipun, kita mudah melihat betapa rapuhnya etos kerja bangsa ini. Bangsa kita begitu mengutamakan bungkus daripada isi. Penampakannya relatif beragam, mulai dari kegemaran memakai gelar-gelar sarjana murahan, penampilan dan asesori berlebihan, praktek mark-up, besar pasak dari tiang demi gengsi hingga jor-joran dalam pesta kawin. Bangsa kita juga malas bekerja keras. Lihatlah wajah pendidikan di negeri ini! Nyontek saat ujian, fotokopi skripsi hingga ijazah palsu. Di dunia ekonomi, begitu meriah pagelaran bisnis rente alih-alih bisnis riil, menyogok dan korupsi, jalan pintas via dukun, mau kaya via lotere, undian berhadiah hingga penggandaan uang ala Danasonic atau Kospin.
Bangsa kita pun lebih suka menerima dan mengkonsumsi daripada memberi dan berproduksi. Penampakannya, doyan utang, malas beramal, jika beramal juga biasanya punya pamrih ekonomi, politik dan sosial, penikmat hal-hal yang belum saatnya atau hal-hal terlarang lainnya, dan sebagainya. Tidak cukup ruang di sini untuk membicarakan etos negatif lainnya. Anda bisa membaca lebih lengkap dalam "Manusia Indonesia" karya Mochtar Lubis sekitar 25 tahun yang lalu. Bagi saya, cukuplah alasan
untuk mengatakan bahwa dengan etos kerja yang begitu lemah, maka dalam gelanggang pertandingan antarbangsa, ibarat main ular tangga, bangsa Indonesia akan selalu kembali ke kotak awal (square one).
Maka melalui media ini saya mengajak Anda segenap warga bangsa yang cinta Indonesia untuk mengubah nasib kita dan anak cucu kita di masa depan. Cukuplah sudah 1948, 1965, dan 1998! Biarlah abad ke-21 ini dan abad-abad sesudahnya menjadi abad keemasan nusantara, yaitu tatkala Republik Indonesia dapat menjadi wahana rahmat bagi rakyatnya, tetangganya, bahkan seluruh dunia. Bagaimana caranya? Marilah kita mengambil tekad dan komitmen baru untuk menjadi manusia moral secara de-facto. Itu berarti kita harus memaknai segala sesuatu secara spiritual, termasuk kerja, uang, dan jabatan. Marilah kita sadari bahwa pertama-tama kita adalah mahluk moral baru kemudian menjadi mahluk biologis, psikologis dan sosio-ekonomis.
Hendaklah kita ingat bahwa tanpa unsur pokok moral itu, maka manusia tidak lebih cuma hewan cerdas, sekelas di atas simpanse. Akan tetapi, dengan moralitas, Anda dan saya menjadi mahluk langit, milik Tuhan, kekasih Ilahi Robbi, tak terhingga jaraknya dari hewan terpandai sekalipun. Dari Kitab-kitab Suci, kita sudah belajar bahwa manusia berasal dari Tuhan, hidup oleh Tuhan, dan berakhir pada Tuhan. Maka seharusnya motto abadi kita adalah Dari Tuhan oleh Tuhan untuk Tuhan.
Saya yakin bahwa kesadaran dan penghayatan tuntas akan motto di atas akan memberi Anda motivasi tiada tara. Berhadapan dengan kekuatan ini, motivasi Maslow cuma seperti lampu 5 watt di depan matahari. Dengannya kita akan memiliki unlimited energy for living, sehingga kita bisa living to the fullest. Inilah yang saya maksud dengan reviving the spirit of success. Olehnya, rasa takut akan sirna, kebimbangan menguap dan kekhawatiran akan lenyap. Maka kita pun akan mahardika (sangat kuat) karena hidup kita berakar, bertumbuh, dan berbuah di dalam dan bersama Tuhan.
Jadi, izinkanlah saya menantang Anda untuk membiarkan roh mahardika, yaitu roh keberhasilan dalam diri Anda, milik Tuhan itu, untuk tumbuh menyemai ke luar. Saya yakin bahwa kita tak punya andalan apa-apa lagi di masa krisis ini. Jangankan bertindak signifikan, mengerti apa yang sedang terjadi saja kita sudah tak mampu. Sejumlah eksekutif sudah mengaku pada saya, "Pak Jansen, I am totally confused!" Bingung total! Padahal kecerdasan mereka di atas rata-rata. Saya tidak berkata agar jangan memakai otak. Justru sebaliknya gunakanlah rasio Anda seintensif mungkin. Apalagi menurut majalah Humor, otak orang Indoneisa paling jarang dipakai sehingga harganya di pasar second hand sangat tinggi. Akan tetapi, jangan otak saja. Sekarang kita butuh the spiritual side of ourselves menjadi energi dan poros penggerak supernatural menghadapi krisis besar ini. Dengan energi From God By God For God inilah kita mampu menampilkan delapan Etos Kerja Profesional. Tanpa etos itu, saya pesimis kita bisa selamat dari krisis ini. Andaipun selamat, kelak kita bakal kembali ke square one lagi. Maka marilah. Sebab jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan oleh Anda, siapa lagi?
Sumber: Reviving The Spirit of Success 10.98 oleh Jansen Sinamo, Direktur Jansen Sinamo WorkEthos Training Center